Pannakatha

Seperti apakah konsep anicca dukkha anatta dalam penerapan kehidupan keseharian, mari kita simak kumpulan artikel artikel Pannakatha yang merupakan karya terjemahan bercampur dengan kompilasi dari berbagai buku yang dilakukan oleh penyusun dan diterbitkan dalam bentuk leaflet sejak tahun 1990-an dalam rangka memenuhi kebutuhan permenungan pokok-pokok penting hakikat kehidupan, dan atas praktik Buddha dhamma di dalam kehidupan sehari-hari dari beberapa pendukung yang menyebarkannya di berbagai kota di Nusantara. Atas berbagai masukan, maka leaflet tersebut di kumpulkan dan di rangkai kembali menjadi satu didalam buku kecil dan sekarang di tuangkan dalam bentuk website ini. Semoga dapat memberikan sumbangsih memperkaya referensi dan bahan renungan Buddha Dhamma dalam praktik keseharian dengan berbagai perumpamaan yang tersebar didalam Tipitaka

Dhamma menjadi berkah mulia bagi kita

Selamat Rodjali Webblog : http://tilakkhana-tigacorakkehidupan.blogspot.com

Creator:Mirawati Mulyadi

Wednesday, 23 July 2014

Antara Melekat Vs Bijaksana

Para bhikkhu, seseorang yang belum merealisasi pencerahan sempurna, yang tidak terpelajar, mengalami perasaan-perasaan menyenangkan, perasaan-perasaan tidak menyenangkan dan perasaan-perasaan bukan menyenangkan pun bukan tidak menyenangkan (netral). Para siswa mulia, yang terpelajar, juga mengalami perasaan-perasaan menyenangkan, perasaan-perasaan tidak menyenangkan dan perasaan-perasaan bukan menyenangkan pun bukan tidak menyenangkan (netral). Para bhikkhu, dalam hal ini, apakah pembeda, faktor penentu yang membuat kontras di antara siswa mulia dan terpelajar dengan orang-orang yang tidak terpelajar dan belum merealisasi pencerahan sempurna ?

Ketika seseorang yang tidak terpelajar, yang belum merealisasi pencerahan sempurna, mengalami perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, ia mengeluh, meratap, bersedih, meraung-raung, memukul-mukul dadanya dan kebingungan serta putus asa; ia mengalami dua jenis perasaan, yaitu perasaan yang dialami melalui media jasmani dan perasaan langsung melalui batinnya.

“Kelihatannya seolah-olah seorang pemanah, yang telah melepaskan anak panah pertamanya kepada seseorang, kemudian melepaskan kembali anak panah yang kedua. Orang yang terkena panah tersebut akan merasakan nyeri dari kedua panah tersebut. Demikianlah orang yang tidak terpelajar, yang belum merealisasi pencerahan sempurna. Ia mengalami dua macam nyeri, yaitu nyeri melalui media jasmani dan nyeri batiniah.

“Lebih jauh lagi, di dalam mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, ia merasa tidak senang. Dengan tidak senang terhadap perasaan tidak menyenangkan tersebut, kecenderungan laten kebencian (patighanusaya) terhadap perasaan-perasaan tidak menyenangkan terakumulasi. Berhadapan dengan perasaan tidak menyenangkan, ia mencari kesenangan di dalam nafsu indera. Mengapa demikian? Sebab, orang yang tidak terpelajar, yang belum merealisasi pencerahan sempurna tidak mengetahui cara lain untuk terbebas dari perasaan tidak menyenangkan selain mencari selingan di dalam nafsu indera. Dengan senangnya di dalam nafsu indera, kecenderungan laten nafsu (raganusaya) terhadap perasaan-perasaan menyenangkan tersebut terakumulasi. Ia tidak mengetahui kemunculan, kepadaman, kontraksi, keterbatasan dan terbebasnya dari perasaan-perasaan tersebut sebagaimana hakekat yang sesungguhnya, maka kegelapan batin (avijjanusaya) terhadap perasaan netral terakumulasi. Mengalami perasaan menyenangkan ia terikat kepadanya, mengalami perasaan tidak menyenangkan ia terikat kepadanya, mengalami perasaan neteral ia terikat kepadanya. Para bhikkhu, demikianlah orang yang tidak terpelajar, yang belum merealisasi pencerahaan sempurna terikat kepada kelahiran, ketuaan, kematian, duka cita, ratapan / keluh kesah, kesakitan, kesedihan dan keputus-asaan. Saya katakan, ia terikat oleh penderitaan.

“ Para bhikkhu, seorang siswa yang terpelajar, yang telah merealisasi pencerahan sempurna, ketika mengalami perassan tidak menyenangkan, ia tidak sedih, tidak meratap, tidak meraung-raung ataupun memukul-mukul dadanya. Ia tidak menderita. Ia mengalami sakit hanya di badan, namun batinnya tidak sakit.

“ Kelihatannya seperti seorang pemanah, setelah memanahkan anak panahnya yang pertama kepada seseorang, kemudian memanahkan anak panah keduanya, namun tidak mengenai sasaran; dalam hal ini orang yang terpanah akan mengalami nyeri saat panah pertama mengenainya. Demikianlah orang yang terpelajar, yang telah merealisasi pencerahan sempurna. Ia  mengalami sakit hanya pada badannya, namun batinnya tidak sakit.

“ Lebih jauh lagi, ia tidak mengalami ketidaksenangan terhadap perasaan yang tidak menyenangkan. Dengan mengatasi ketidaksenangan terhadap perasaan tidak menyenangkan, kecenderungan laten kebencian terhadap perasaan tidak menyenangkan tidak terakumulasi. Mengalami perasaan tidak menyenangkan itu, ia tidak mencari selingan dalam nafsu indera. Mengapa tidak ? Sebab orang yang terpelajar, yang telah merealisasi pencerahan sempurna mengetahui cara untuk terbebas dari perasaan tidak menyenangkan daripada bersenang di dalam selingan nafsu indera.  Dengan tidak mencari selingan di dalam nafsu indera, kecenderungan laten nafsu terhadap perasaan menyenangkan tidak terakumulasi. Ia mengetahui kemunculan, kepadaman, kontraksi, keterbatasan dan kebebasan dari perasaan-perasaan sebagaimana hakekat yang sesungguhnya. Dengan mengetahui hal-hal ini sebagaimana hakekat yang sesungguhnya, kecenderungan laten kegelapan batin terhadap perasaan netral tidak terakumulasi. Mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, ia tidak terikat kepadanya; mengalami perasaan netral, ia tidak terikat kepadanya. Para bhikkhu, demikianlah orang yang terpelajar, yang telah merealisasi pencerahan sempurna, terbebas dari kelahiran, ketuaan, kematian, duka cita, ratapan, kesakitan, kesedihan dan keputus-asaan. Saya katakan, ia terbebas dari penderitaan.

“Para bhikkhu, inilah pembeda, faktor penentu pembuat kontras, antara mereka yang terpelajar dan telah merealisasi pencerahan sempurna dengan mereka yang tidak terpelajar dan belum merealisasi pencerahan sempurna.



Tuesday, 22 July 2014

Harapan Optimis Seekor Lebah

“Malam akan berlalu, terangnya pagi akan datang,
Matahari akan terbit, bunga teratai akan tertawa’
Demikian senang lebah di atas kaliks sebuah teratai
O doom! Doom! Seekor gajah merobek tanaman teratai itu!

Sore itu, matahari dengan perlahan tenggelam di sebelah Barat. Burung-burung tergesa-gesa pergi ke sarangnya sementara binatang malam yang liar mulai berkeliling mencari mangsa. Saat ini seekor lebah, seekor lebah kecil yang sibuk,sedang berdengung ke sana kemari, mencari sedikit madu terakhir untuk memuaskan laparnya. Ketika itu, di sebuah kolam teratai yang penuh dengan teratai menyala, dan dengan sangat gembira lebah itu beristirahat pada kaliks sekuntum bunga teratai kecil yang indah, untuk bersenang-senang pada sesuatu yang tidak begitu berharga,madu yang tersembunyi. Lebah itu tidak merusak keindahan teratai, ia hanya menimum sedikit madu. Namun, apa hendak dikata, dengan tenggelamnya matahari, bunga teratai menutupkan mahkotanya yang seperti sutera itu, dan menjerat pengunjungnya yang kelaparan. Lebah kecil itu bukan tanpa harapan. Di dalam benaknya terlintas pikiran kecil yang telah biasa terperangkap di dalam penjara teratai yang cantik

“Malam akan berlalu, menyerah pada terangnya pagi; matahari akan terbit, dan teratai ini akan mengembang kembali, dan segera saya dapat keluar dari rumah penjara untuk bergabung dengan kelompok saya”

Namun, sesuatu yang tak diharapkan telah terjadi.Seekor gajah yang besar,raja hutan itu, datang sesuai jalur jalannya menuju kolam tersebut. Ia minum sampai puas dan memercikan air yang sejuk tersebut ke atas panggulnya yang padat.Belalainya yang sensitif mencari wewangian teratai yang enak, teratai yang sama dengan tempat lebah yang keliru itu terperangkap!

Dengan segera binatang buas yang besar itu merobek tanaman teratai dan berjalan berderak-derak. Daun,bunga dan lebah itu hilang ke dalam air yang penuh lumpur!Dan, lebah kecil itu,cukup bertentangan dengan khayalannya yang optimis, telah menemui ajalnya.

Demikianlah kehidupan!Satu saat di sini, kemudian hilang selamanya.Siapa yang dapat mengatakan kepastian bahwa seseorang akan hidup untuk melihat hari esok? Semua berlalu dengan cepat;keindahan bunga dan suara burung dan dengungan lebah itu.

Semua pertemuan berakhir dalam perpisahan,sementara semua kehidupan berakhir dalam kematian. Dan kita, di dalam semesta yang misterius ini,hidup,cinta dan tertawa, karena”cukup mudah untuk bergembira ketika kehidupan ini mengalir terus seperti sebuah lagu”. “Namun” ketika kesedihan datang, mereka tidak datang sendiri, namun dalam jumlah besar seperti batalion dan kemudan dunia secara keseluruhan, tampak seperti sebuah gambaran penderitaan.

Tapi, seseorang yang memandang kehidupan ini dengan satu pandangan yang objektif, akan melihat segala sesuatu dalam perspektif yang sesungguhnya. Ia yang budaya latihannya menganjurkan untuk tenang dan tidak gentar di bawah semua perubahan dari kehidupan, akan dapat tersenyum ketika segala sesuatu sama sekali berjalan ‘salah’/tidak sesuai harapannya. Orang ini tentu adalah seorang yang patut di hargai

Mengendalikan diri dari meminum minuman memabukkan dan penuh kewaspadaan, memantapkan dirinya di dalam kesabaran dan kesucian, orang bijaksana itu melatih batinnya. Dan hanya melalui latihan, batin yang tenang akan direalisasi.

Satu pengertian tertentu mengenai bekerjanya kamma (perbuatan) dan bagaimana kamma mendatangkan buah (vipaka kamma) sangat diperlukan oleh seseorang yang secara mati-matian berusaha mengembangkan keseimbangan batin. Dari sudut pandang kamma, seseorang akan dapat memiliki kecenderungan objektif terhadap semua mahluk, bahkan juga terhadap benda-benda mati.Sebab terdekat dari keseimbangan batin adalah pengertian bahwa semua mahluk merupakan hasil dari perbuatannya, kamma. Dunia ini yang di dalamnya kita pakai sebagai tempat tinggal sementara, mirip dengan sebuah teratai besar di mana kita semua, lelaki maupun wanita, mengumpulkan madu dengan perjuangan yang berat. Kita membangun harapan-harapan khayal, dan kita merencanakannya untuk hari esok. Namun satu hari, mungkin secara tiba-tiba, dan tidak terharapkan, datanglah jam-jam tak terelakan ketika kematian,gajah, Maccu Mara,merobek kehidupan kita dan membuah harapan-harapan kita sia-sia.

‘Wajah kehidupan ini hanya sebuah topeng/kedok yang menyembunyikan kematian semata. Dengarkanlah puisi ini:

“Pelajarilah ini,pelajarilah dengan baik, dunia ini adalah sebuah mimpi dan bentuk-bentuknya yang mengambang adalah debu impian-impian semata;

Tubuh ini yang kita beri makan dengan wewangian bersifat lebih sementara jika dibandingkan dengan berakhirnya warna sebuah bunga;

Semua milik kita merupakan belenggu yang mengikat kita lebih kuat/hebat dibandingkan kemiskian;uang,keberuntungan, usia muda dan kekuatan menarik bagi kita; kita mirip kafilah yang tertarik akan gurun yang mematikannya”

Sejarah telah lagi-lagi membuktikan, dan akan terus membuktikan bahwa tidak satupun di dunia inii  yang kekal. Bangsa-bangsa dan peradaban muncul, tumbuh dan lenyap bagaikan ombak di lautan yang menyerah pada ombak lainnya yang baru, pandangan tak berdasar dan arus yang pudar dari sejarah kemanusiaan.

Oleh karena itu para bijaksana jaman dulu kala menyatakan;
“Delapan pegunungan besar dan tujuh samudera; matahari, dewa dewa yang duduk dan seolah menguasai semuanya ini,

Kamu, saya, semesta,pasti akan berlalu/padam.Waktu, menaklukan segalanya. Mengapa kita begitu gemar akan permain semu (Maya)?’


Perumpamaan Ular Berbisa

Dikisahkan ada seorang yang sering melakukan kejahatan, tetapi ia takut akan kematian, kesukaran atau ketidaksenangan. Ketika itu raja mengetahui status orang itu sebagai penjahat, namun belum dapat membuktikan kesalahan penjahat itu. Akhirnya raja itu memutuskan untuk mengkondisikan kehancuran penjahat itu secara tak langsung dengan menyuruhnya memelihara empat ekor ular yang sangat berbisa dan berbahaya, yang gigitannya dapat mengakibatkan penderitaan hebat, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Ular itu harus diperlakukan dengan baik; pada waktu yang tepat harus dibangunkan, diberi makan, dimandikan, ditidurkan dan dipenuhi semua kebutuhannya. Namun dengan berpikir bahwa memelihara empat ular berbisa ini merupakan kehormatan yang dilimpahkan oleh raja kepadanya, penjahat itu sangat bangga dan memperlakukan keempat ular berbisa itu. Tanpa menyadari resiko dan bahaya yang siap menerpanya, penjahat itu sangat bangga dan memperlakukan keempat ular berbisa tadi sebagai perhiasan dan dipamerkannya berkeliling kota. Ular pertama dibiarkan merayap melalui kaki kirinya dan berdiam di bahu sebelah kiri; ular kedua merayap melalui kaki kirinya dan berdiam di bahu sebelah kiri; ular kedua merayap melalui kaki kanan dan berdiam di bahu kanan; ular ketiga merayap melalui sisi depan badannya dan berdiam di dada; ular keempat merayap melalui sisi belakangnya dan berdiam di atas kepala.

Satu hari ia bertemu dengan sahabat baiknya yang mengingatkannya: “ Bila tiap ular memiliki kebutuhan yang berbeda pada saat yang bersamaan dan kamu tidak mampu memuaskannya, maka kamu akan menghadapi penderitaan, bahkan kematian. Sesungguhnya, ular tersebut merupakan kondiri yang akan menghancurkanmu. Kamu harus membebaskan diri ketika ular itu sedang tidur”

Penjahat itu mengikuti nasehat sahabatnya dan pergi dari ular-ular itu. Menyadari bahwa orang ini melarikan diri, raja teringat bahwa penjahat mempunyai lima orang musuh; dan ia merencanakan memberi hadiah bagi siapa pun yang berhasil menangkap penjahat itu. Tentu saja, lima orang tadi datang terlebih dulu kepada raja dan bersedia menangkap walaupun tanpa hadiah.

Ketika penjahat itu sedang berlari, kembali sahabat baiknya mengingatkannya, bahwa ia tidak hanya dikejar oleh ular-ular berbisa, tetapi juga oleh lima orang musuhnya. Oleh karena itu ia harus secepat mungkin membebaskan diri.

Ketika raja menyadari bahwa penjahat ini tak dapat ditemukan, beliau mendekati seseorang yang diduga sebagai teman dekat penjahat itu dan diminta untuk berpura-pura sebagai sahabat baiknya untuk memengaruhi penjahat tersebut agar kembali.

Sekali lagi sahabat baiknya datang mengingatkannya perihal sahabat palsu di atas; bahwa ia harus waspada dan tidak tertipu oleh sahabat palsu itu, tetapi dianjurkan agar tetap pergi membebaskan diri. Akhirnya sampailah penjahat itu pada sebuah desa kosong dengan enam rumah yang kosong pula. Di sini karena lapar dan haus, ia berkeliling mencari makanan dan air, mulai dari rumah pertama sampai rumah keenam, tetapi ia tidak menemukan apa-apa, hanya ditemukan mengkuk, piring, tempat air yang kosong. Karena lelahnya, ia pergi ke sebuah pohon dengan maksud untuk tidur dengan enak. Saat itu, kembali sahabat baiknya mengingatkan bahwa keenma rumah kosong tersebut selalu disatroni/dikunjungi oleh enam perampok/bandit yang akan segera datang dan bila ia bertemu dengan bandit-bandit itu maka kemungkinan besar ia akan terjerat dan menghadapi bahaya.

Oleh karena itu, penjahat tadi pergi lagi pergi lagi membebaskan diri, sampai akhirnya tiba di tepi sebuah sungai yang lebar dengan arus yang sangat deras. Ia menyadari bahwa bila ia tidak mencapai sisi seberang sungai itu, maka ia tidak akan selamat dari kejaran musuh-musuhnya. Tetapi di sisi sungai sebelah sini, ia mencari dan tidak menemukan perahu ataupun jembatan. Namun dengan segera ia mencoba memulai mengumpulkan semua batang pohon, ranting, dedauan dan mengikatnya  menjadi satu seperti sebuah rakit. Dengan rakit yang dibuatnya itu, ia mengayuh sekuat tenaga dengan kedua tangan dan kakinya, dengan kestabilan dan keseimbangan. Dengan usaha dan tekad yang kuat, akhirnya ia dapat menyeberangi arus yang deras dan mencapai sisi seberang sungai; sehingga ia selamat dan terbebas dari musuh-musuhnya.

Arti dari perumpamaan di atas :
  1. Empat ular berbisa dan berbahaya merupakan ibarat dari empat unsur pokok jasmani (Maha bhuta).
  2. Lima orang musuh merupakan ibarat dari lima kelompok perpanduan (Pancakkhandha)
  3. Sahabat baik merupakan ibarat dari Sang Buddha
  4. Sahabat palsu yang berpura-pura sebagai sahabat baik merupakan ibarat kesenangan dan kemelekatan (nandiraga)
  5. Desa dengan  enam rumah kosong merupakan ibarat dari enam landasan indera ( 6 ayanana dalam )
  6. Enam perampok / bandit yang sering menyatroni / mengunjungi desa dengan keenam rumah kosongnya merupakan ibarat enam macam objek indera (6 ayatana luar )
  7. Sisi sungai sebelah sini merupakan ibarat pandangan salah tentang diri (sakkaya ditthi)
  8. Sisi sungai sebelah seberang merupakan ibarat Nibbana.
  9. Sungai dengan arus yang deras merupakan ibarat banjir ( Ogha ), yaitu banjir nafsu indera, banjir kemelekatan pandangan untuk menjadi, banjir pandangan salah dan banjir kegelapan batin.
  10. Rakit merupakan ibarat jalan mulia berunsur delapan ( Ariya Atthangika Magga ).
  11. Penjahat yang membuat rakit dan harus mengayuh sendiri dengan kedua kaki dan tangannya sekuat tenaga dengan penuh tekad merupakan ibarat kita semua sebagai mahluk hidup berjuang dengan penuh semangat dan tekad dan tidak bergantung kepada orang / mahluk / kekuasaan lain di luar diri kita.
  12. Mengayuh dengan kestabilan dan keseimbangan disertai usaha dan tekad kuat merupakan ibarat melatih dengan kestabilan dan keseimbangan dalam keyakinan (saddha), semangat (viriya), perhatian (sati), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna)

Perumpamaan yang tertulis di dalam Asivisopama Sutta ini sangat bermanfaat bagi mereka yang sedang berlatih mengarungi samudra kehidupan ini dalam menggapai kebahagiaan sejati. Perumpamaan ini baik sekali untuk meningkatkan pengertian mereka yang sedang berlatih vipassana.

Semoga tulisan ini menjadi kondisi inspirasi meningkatnya pengertian akan hakekat segala sesuatu. Marilah kita berjuang dengan kesungguhan dan perhatian murni... Semoga semua mahluk berbahagia.


Apakah Kamma dan Anatta Kontradiksi ?

Pertanyaan di atas seringkali muncul pada pendatang baru yang mulai belajar Buddha Dhamma. Mereka berpikir:”Apabila tidak ada aku/diri (anatta), termasuk jasmani dan batin, bagaimana mungkin terdapat perbuatan (kamma)? Siapa yang melakukan perbuatan (kamma)? Siaya yang menerima hasil (vipaka)perbuatan? Keraguan di atas ternyata tidak hanya dijumpai saat ini tetapi juga pada jaman Sang Buddha

Marilah kita mengamati ceritera berikut :
Misalkan para pembaca dan penulis berdiri bersama di tepi sebuah sungai, mengamati airnya yang sedang mengalir. Air mengalir pada area yang hampir datar, sehingga alirannya itu sangat lambat. Tanah pada area tersebut berwarna merah, menyebabkan air itu kemerahan. Sungai itu mengalir melalui banyak area yang populasinya padat di mana orang-orang telah lama membuang sesuatu yang tidak bermanfaat ke dalamnya, di tambah kotoran industri yang terlimpah ke dalam aliran air itu oleh sejumlah besar pabrik-pabrik yang di bangun. Oleh karena itu, air tersebut hampir tidak dihuni oleh sebagian besar binatang. Di dalamnya tidak banyak ikan,udang dan sebagainya. Dalam satu kata, air yang kita perhatikan itu kemerahan,kotor,terpolusi,jarang penghuninya.Semua ciri-ciri itu secara bersamaan merupakan ciri-ciri khusus air itu.Beberapa ciri ini mungkin mirip dengan sungai lain,namun sejumlah total ciri-ciri ini unik bagi aliran air tersebut.

Sekarang kita diinformasikan bahwa aliran air ini dinamakan sungai Berantas.Orang yang berbeda menggambarkannya dengan cara yang berbeda pula. Beberapa orang mengatakan bahwa sungai Berantas kotor dan tidak memiliki banyak ikan. Beberapa lainnya mengatakan bahwa sungai Berantas mengalir sangat lambat. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa sungai Berantas berwarna kemerahan.

Berdiri di tepi sungai, tampak pada kita bahwa air yang kita amati itu sesungguhnya lengkap dengan sendirinya. Atribut-atribut bagi sungai itu, seperti berwarna kemerahan, kotor dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh berbagai faktor yang mengkondisikan, seperti : aliran air kontak dengan tanah merah. Ditambah, air yang kita amati itu secara konstan mengalir. Air yang kita lihat pertama tidak lagi disini, dan air yang kita amati saat ini akan berlalu dnegan cepat. Demikian pula, sungai itu memiliki sifat unik (khas), yang tidak tampak berubah selama faktor-faktor yang mengkondisikannya belum tampak berubah (padahal berubah setiap saat secara kontinyu)

Namun kita diberitahukan bahwa itu adalah sungai Berantas, mereka mengatakan bahwa sungai Berantas kotor, dan sedikit ikannya. Secara sepintas, kita tidak dapat melihat “sungai Berantas” selain dari air yang mengalir itu. Ditambah lagi, mereka menceritakan kepada kita bahwa sungai Berantas memotong tanah merah yang dilaluinya, yang menyebabkan airnya berwarna merah. Hampir seolah-olah sungai Berantas ini melalukan sesuatu terhadap tanah merah itu, dan menyebabkan tanah merah itu “menghukum” sungai itu sehingga airnya menjadi merah.

Kita dapat dengan jelas melihat, bahwa air itu merupakan subyek dari proses sebab dan akitbat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mengkondisikan; air mencebur ke tanah merah dan tanah merah itu larut ke dalam air merupakn salah satu kondisi sebab, akibatnya air itu berwarna merah. Kita tidak dapat menemukan “tubuh” yang melakukan sesuatu atau menerima akibatnya. Kita sesungguhnya tidak dapat melihat sungai Berantas di manapun. Air yang mengalir di depan kita segera mengalir pergi, air yang lebih dulu terlihat tidak lagi di sini. Air yang baru secara konstan segera menggantikan kedudukan air yang telah mengalir. Kita dapat mendefiniskan air itu hanya dengan menggambarkan faktor-faktor yang mengkondisikannya dan kejadian-kejadian yang muncul sebagai akibat faktor kondisi tersebut, yang menyebabkan ciri-ciri seperti yang kita amati. Apabila terdapat sungai Berantas yang nyata dan tidak berubah, tidaklah mungkin bagi aliran air itu untuk berjalan menurut berbagai faktor penentunya. Akhirnya kita melihat bahwa sungai Berantas ini berlebihan dan tak berguna. Kita dapat berbicara tentang air itu tanpa direpotkan dengan”sungai Berantas” ini. Dalam hakekat yang sesungguhnya tidak ada sungai Berantas lagi.

Seraya waktu berlalu, kita mengadakan perjalanan ke sebuah kota baru. Dengan berkehendak menceriterakan air yang kita telah lihat pada waktu yang lewat kepada orang-orang di kota ini, kita menemukan kesulitan. Kemudian kita memanggil seseorang yang menceritakan kepada kita bahwa air itu dikenal sebagai sungai Berantas. Mengetahui hal ini, kita dapat menghubungkan pengalaman kita dengan lancar, dan orang-orang dapat mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketertarikan. Kita memberitahukannya bahwa sungai Berantas memiliki air yang kotor, tidak banyak ikan, terpolusi dan berwarna merah.

Pada saat itu kita menyadari dengan jelas bahwa’sungai Berantas’ ini dan hal-hal yang terjadi yang kita gambarkan itu, hanyalah sebuah konvensi bahasa yang digunakan bagi kemudahan dalam berkomunikasi.Apakah konvensi sungai Berantas ada ataupun tidak, dan apakah kita menggunakannya ataupun tidak, tidaklah menentukan aktivitas aliran air itu. Aliran air itu berlangsung sebagai proses reaksi keterkaitan sebab akibat. Kita dapat membedakan dengan jelas antara konvensi dan kondisi sesungguhnya. Sekarang kita dapat mengerti dan menggunakan konvensi pembicaraan dengan mudah.Segala sesuatu yang secara konvensi kita ketahui sebagai orang, yang kita beri nama, dan merupakan aliran kejadian yang berkesinabungan dan terkait, tersusun dari faktor-faktor penentu yang tak terhingga yang terkait, seperti sungai itu. Mereka adalah subyek kejadian yang tidak terhingga, diarahkan oleh penentu-penentu yang berhubungan, baik dari aliran kejadian di dalam maupun di luar. Ketika suatu reaksi tertentu terjadi dalam suatu sebab, maka akibat dari reakti itu muncul, menyebabkan perubahan-perubahan dari aliran kejadian-kejadian. Kondisi-kondisi yang kita hubungkan itu adalah kamma (perbuatan) dan vipaka (hasil), hanya merupakan permainan sebab akibat di dalam suatu aliran kejadian tertentu. Mereka secara sempurna dapat berfungsi di dalam aliran itu tanpa perlu nama atau konvensi, atau kata’aku’ dan’kamu’, apakah sebagai pemilik atau pelaku dari perbuatan, ataukah sebagai penerima hasil perbuatan itu. Namun untuk kemudahan berkomunikasi di dalam dunia sosial, kita menggunakan konvensi nama bagi aliran kejadian tertentu, seperti Tuan Selamat dan sebagainya. Setelah menerima konvensi itu, kita menerima tanggung jawab bagi aliran kejadian, menjadi pemilik, pelaku aktif dan pasif dan menerima hasil atau akibatnya. Akan tetapi apakah kita menggunakan konvensi atau tidak, apakah kita menerima label atau tidak, aliran kejadian itu sendiri tetap berfungsi dan berlangsung, dikendalikan oleh sebab dan akibat. Oleh karena itu, hal yang penting, kita harus memahami perbedaan antara konvensi dan kondisi yang sesungguhnya, di mana keduanya harus dipergunakan secara terpisah sesuai konteks pembicaraannya sehingga kita tidak dibingungkan oleh kedua hal itu.

Konvensi merupakan penemuan manusia yang berguna dan praktikal. Problema akan muncul ketika manusia bingung akan konvensi dan hakekat sesungguhnya.

Hakekat sesungguhnya tidak membingungkan, karena berfungsi terpisah dari keinginan manusia; jadi segala problema sepenuhnya merupakan kesalahan manusia.

Kalau seseorang bertanya:”Apabila ‘bukan aku’ yang melakukan kamma, maka ‘aku’ yang mana (siapa) yang menerima hasil kamma?” Bagian pertama dari kalimat di atas di bicarakan menurut pengetahuan akan kenyataan, tetapi bagian kedua dari kalimat di atas dibicarakan menurut persepsi kebiasaan orang itu (konvensi). Secara alamiah keduanya tidak akan cocok.

Dengan demikian jelas bagi kita, dalam hakekat yang sesungguhnya, kamma dan Anatta tidak kontradiksi dan tak dapat dipisahkan. Kamma berperan karena tidak ada Atta (aku/diri)


Saturday, 19 July 2014

Ibarat Burung Gagak

Perumpamaan

Pada suatu masa, di sebuah desa di tepi pantai, terjadi ketidakseimbangan unsur-unsur alam, dan sejumlah besar ternak kerbau mati karena terserang wabah. Karena ketakutan bahwa penyakit itu akan segera menyebar, orang-orang di desa itu membawa bangkai kerbau-kerbau itu dan membuangnya ke laut. Seraya bangkai kerbau itu terhanyut dari pantai, sekawanan burung gagak datang memakannya berhari-hari. Setiap hari, ketika gagak itu telah makan dengan puas (kenyang), mereka terbang kembali untuk melewati malam di pohon-pohon di tepi pantai; dan kemudian mereka akan terbang kembali pagi harinya untuk melanjutkan makan bangkai yang sedang terhanyut ke tengah laut itu.

Seraya hari-hari berlalu, dan bangkai-bangkai itu terhanyut lebih jauh dan lebih jauh lagi ke tengah lautan, beberapa gagak, melihat kesulitan dalam perjalan terbang kembali ke tepi pantai, memutuskan untuk menghabiskan malamnya di atas bangkai yang sedang terhanyut tersebut; sedangkan gagak-gagak lainnya dari kawanan tersebut tidak memperdulikan kesulitan tersebut, dan terus-menerus terbang kembali ke tepi pantai pada setiap sore.

Akhirnya, ketika bangkai-bangkai tersebut telah begitu jauh terhanyut ke lautan, perjalanan pulang pergi terbang ke tepi pantai tidak lagi memungkinkan, kawanan gagak itu memutuskan untuk meninggalkan sumber makanan tersebut (bangkai kerbau) dan mencari sumber makanan yang baru di daratan.

Namun, satu dari gagak-gagak tersebut telah tinggal bersama bangkai-bangkai yang terhanyut itu; dan ketika ia mengetahui bahwa teman-temannya tidak lagi datang untuk berbagi makanan, ia diliputi kegembiraan yang luar biasa,berpikir bahwa makanan yang ia miliki saat ini akan menghidupinya dalam waktu yang lama. Ia begitu asyik dalam makannya dan tidak pernah berpikir untuk kembali ke pantai.

Seraya bangkai-bangkai itu terhanyut lebih jauh dan lebih jauh lagi ke tengah lautan, sekawanan ikan datang dari dasar lautan untuk melahap bangkai-bangkai tersebut sampai akhirnya tidak ada lagi yang tertinggal untuk dimakan. Akhirnya,sisa-sisa bangkai itu mulai tenggelam ke dalam lautan; dan pada saat itu, gagak tersebut memutuskan bahwa waktunya telah tiba baginya untuk terbang kembali ke pantai. Dengan pikiran semacam ini, ia terbang ke arah utara,namun tidak melihat daratan. Ia terbang ke arah Selatan, ke Timur dan ke Barat, namun juga tidak melihat daratan. Kemudian ia terbang dengan sekuat-kuatnya dan tidak mampu terbang lagi, kehabisan tenaga; ia menurunkan sayap-sayapnya dan jatuh ke dalam lautan. Di dalam lautan tersebut ia menjadi santapan ikan-ikan.

Makna perumpamaan.
Inilah kehidupan manusia. Apabila kita membiarkan diri kita larut dalam keasyikan hanya dengan makan,tidur dan kesenangan-kesenangan indera, tanpa melakukan kebajikan; misalnya apabila kita tidak mempraktikan ajaran benar yang telah di ajarkan, kita tentu akan memetik buahnya, yaitu penderitaan,mirip dengan burung gagak yang jatuh menemui kematiannya di lautan.

Cerita ini adalah tentang kita semua;Lautan mengumpamakan dunia ini,arus lautan mengumpamakan arus tumimbal lahir; bangkai-bangkai kerbau mengumpamakan tubuh kita yang makin rapuh dan objek kesenangan duniawi; pohon di tepi pantai mengumpamakan ajaran benar, dan burung gagak mengumpamakan pikiran kita, yaitu : sewaktu-waktu kita merasa senang mempraktikkan ajaran benar, dan sewaktu-waktu kita tidak suka mempraktikan ajaran benar.